Tegakkan Maja Labo Dahu, Ketua Umum GAKADA BIDOM Pulau Lombok Ketuk Hati Nurani Mahasiswa Bima-Dompu

banner 468x60

MATARAM, SURYA POST – Kasus penangkapan terhadap lima oknum aktivis mahasiswa asal Bima di Jempong Baru, Kota Mataram, memicu respons mendalam dari simpul organisasi kedaerahan.

Ketua Umum Gabungan Kawula Muda Bima Dompu (GAKADA BIDOM) Pulau Lombok, Arif Kurniadin, mengetuk hati nurani seluruh mahasiswa perantauan agar menjadikan peristiwa memilukan ini sebagai momentum pembuktian komitmen moral institusional dan personal.

banner 336x280

Arif Kurniadin menegaskan bahwa penyitaan komoditas zat adiktif dari tangan aktor pergerakan bukan lagi persoalan hukum biasa. Peristiwa ini melainkan sebuah tamparan keras bagi eksistensi mahasiswa perantauan serta bentuk pengkhianatan nyata terhadap kerja keras dan tetesan keringat orang tua di kampung halaman yang membiayai investasi pendidikan anak-anaknya di tanah rantau.

“Secara sosiologis dan kultural, peristiwa kelam di Jempong Baru harus menjadi cermin bagi kita semua,” tegas Ketua GAKADA BIDOM dalam press release. Senin (26/10/26).

Lebih Ketum GAKADA, kasus ini membuktikan terjadinya disorientasi peran akibat kelalaian dalam menginternalisasi pranata nilai luhur leluhur kita, yaitu Falsafah Maja Labo Dahu (Rasa Malu dan Takut) serta Nggahi Rawi Pahu (Suara Kerja Nyata).

“Kami mengetuk hati nurani seluruh mahasiswa Bima-Dompu untuk kembali merenungkan amanah moral tersebut,” ujar Geby sapaan akrabnya.

Arif Kurniadin mengingatkan secara rasional bahwa hilangnya rasa malu (maja) terhadap konsekuensi sosial dan hilangnya rasa takut (dahu) pada supremasi hukum merupakan akar dari munculnya perilaku menyimpang (deviant behavior).

“Kepalan tangan aktivisme yang idealis jangan sampai ditekuk oleh determinasi barang haram. Tanah perantauan adalah tempat bertarung dengan isi kepala dan integritas intelektual, bukan ruang kompromi untuk menjadi komoditas kriminalitas,” tuturnya.

Sebagai bentuk komitmen, GAKADA BIDOM Pulau Lombok secara rasional mendukung otoritas kepolisian untuk menegakkan hukum seadil-adilnya tanpa distorsi objektif.

“Kami akan tetap jihad melawan peredaran barang haram tersebut,” tegasnya.

Kata dia, kejadian yang menimpa 5 aktivis asal bima ini menjadi peringatan sekaligus ketukan hati nurani bagi seluruh rekan-rekan mahasiswa Bima-Dompu di Mataram untuk melakukan sterilisasi ruang komunal, baik di lingkungan kos-kosan maupun sekretariat organisasi.

“Mari kita dekap kembali filosofi “Maja Labo Dahu” secara empiris, tatap kembali harapan orang tua kita, dan pastikan kita berada di tanah rantau untuk mengangkat harkat martabat keluarga, bukan untuk menyerah pada barang haram,” pungkasnya.

Redaksi |

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *